Aktivis Mahasiswa Kuningan Soroti “Gagal Bayar” Pemda, Miskin Ekstrim, Pengangguran, Hingga Perombakan Alat Kelengkapan DPRD
Aktivis mahasiswa yang merupakan mantan Ketum KAMMI Kuningan, Ade Zezen MZM, menyoroti sejumlah masalah yang sedang hangat dibahas publik. Tampak dalam foto Ia sedang berorasi di depan kampus Uniku. FOTO : IST

Aktivis Mahasiswa Kuningan Soroti “Gagal Bayar” Pemda, Miskin Ekstrim, Pengangguran, Hingga Perombakan Alat Kelengkapan DPRD

SiwinduMedia.com – Gimik, merupakan salah satu istilah dalam seni pertunjukan, yang berarti seni gerak tipu tubuh. Tujuannya untuk menciptakan suasana, citra, pengelabuan, efek kejut hingga demi meyakinkan penonton.

Berkaitan istilah gimik, yang lebih pantas mengaplikasikan istilah gimik ini adalah dunia artis dan entertainment. Karena memiliki tujuan untuk menaikkan rating, yang kemudian berdampak kepada eksistensi dan ujungnya banjir job.

Namun akhir-akhir ini, gimik dipakai sebagian politikus. Padahal para politikus tidak perlu melakukan gimik untuk mendapatkan job. Ataukah mereka lupa, masih punya banyak job yang harus diselesaikan? Atau para politikus ini tidak paham dan tidak tahu apa yang menjadi job mereka?, sehingga harus membuat gimik untuk mendapatkan dan menambah job?.

Pernyataan pembuka itu disampaikan aktivis mahasiswa yang merupakan mantan Ketua Umum Pengurus Daerah (PD) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kabupaten Kuningan, Ade Zezen MZM. Parahnya, kata Ade, gimik yang dilakukan para politikus itu dengan cara merusak fasilitas atau sarpras, yang sebetulnya dibeli pakai uang rakyat.

Baca Juga:  Pakar Kebijakan Publik Nasional Kritisi Pemda Kuningan di Akhir Periode Kepemimpinan Acep-Ridho

“Saat kami mahasiswa berdemo ke gedung dewan, jangankan untuk merusak fasilitas dan sarpras yang ada di sana, yang ada kami dijaga ketat oleh aparat. Padahal kami sebagai rakyat lebih berhak atas semua fasilitas yang ada di gedung dewan tersebut,” ujar Ade, Kamis (13/4/2023).

Menanggapi isu hangat terkait perombakan Alat Kelengkapan DPRD (AKD) yang kini mencuat ke publik, sebagai rakyat, Ade mengaku tidak mempermasalahkan, siapa menjabat komisi apa dan dari partai mana saja yang masuk jadi AKD.

“Bagi kami sebagai rakyat, tidak masalah selama memang (perombakan AKD, red) sesuai dengan tupoksi dan kompetensinya. Hanya saja, menjadi masalah bagi kami sebagai rakyat kalau pembagian itu hanya sebatas bagi-bagi kue saja,” sebut Ade.

“Saran kami, stop gimik politik. Stop pertunjukan drama kokoreaan!. Bapak dan Ibu pejabat itu bukan artis Korea. Sudah saatnya serius bekerja di akhir masa jabatan,” imbuhnya menyarankan.

Legacy gagal bayar, predikat miskin ekstrim, pengangguran tinggi, masalah stunting, gedung Sekda sudah 11 tahun mangkrak, lanjut Ade, semua masalah itu ia pertanyakan, sebenarnya menjadi pekerjaan siapa. Tentu itu, kata dia, adalah pekerjaan para pejabat terhormat yang duduk di kursi eksekutif maupun legislatif, yang susah payah digaji oleh rakyat.

Baca Juga:  Sekda Buka Ruang Komunikasi Konflik antara Desa Trijaya Dengan BTNGC

“Atau jika Bapak dan Ibu pejabat tidak mampu mengerjakan dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada, lebih baik mundur jadi pejabat, biar kami yang menggantikan,” sindirnya.

Cek Juga

PDI-P Sudah Keluarkan Surat Tugas Calon Bupati, Kuningan kepada Siapa?

PDI-P Sudah Keluarkan Surat Tugas Calon Bupati, Kuningan kepada Siapa?

SiwinduMedia.com – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) telah mengeluarkan surat tugas …